BARAKPOST.CO || Pringsewu_ Dalam mewujudkan ketangguhan negara menghadapi bencana, setiap Desa/Pekon diharapkan bisa menjadi Desa Tangguh Bencana. Sebagai upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya untuk mengurangi resiko bencana di Desa/Pekon.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Provinsi Lampung bekerjasama dengan Mitra Bentala Lampung menggelar Pelatihan sekaligus Pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Tahun 2026 di Pekon Sidoharjo Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu.
(Selasa, 18/08/2026)
Kegiatan Pelatihan akan dilaksanakan selama 5 hari kedepan dan diikuti oleh 35 orang peserta terdiri dari unsur masyarakat dan aparatur Pekon yang akan tergabung dalam Forum Pengurangan Resiko Bencana ( FPRB) dan Relawan Destana Pekon Sidoharjo.
Mashabi mewakili Direktur Mitra Bentala Lampung menyampaikan “bahwa tujuan dari Pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) ini diharapkan bisa mewujudkan ketangguhan dan kemandirian masyarakat dalam menghadapi bencana ditingkat Desa/Pekon”.
Arif Nugroho selaku Plt Kalaksa BPBD Pringsewu pada saat membuka acara menyampaikan bahwa “Pada saat bencana terjadi, masyarakat desa adalah pihak yang pertama berada di lokasi. Bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat tentu memerlukan waktu untuk tiba. Oleh sebab itu, keselamatan pada saat-saat awal sangat ditentukan oleh kesiapan masyarakat itu sendiri.
Karena itu saya berharap para pengurus DESTANA nantinya menjadi relawan yang aktif, jadilah agen perubahan yang mampu mengajak masyarakat untuk menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya kehidupan sehari-hari”.
Agus Purnomo Analis Kebencanaan Ahli Muda pada BPBD Pringsewu menambahkan “Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, dan seluruh pemangku kepentingan.
Paradigma penanggulangan bencana saat ini telah bergeser, jika dahulu kita lebih banyak berorientasi pada penanganan setelah bencana terjadi, maka sekarang fokus utama adalah mengurangi risiko serta membangun ketangguhan masyarakat sebelum bencana terjadi. Kita tidak lagi hanya berbicara mengenai bantuan dan rehabilitasi, tetapi bagaimana membangun masyarakat yang memiliki kemampuan mengenali ancaman, mengurangi kerentanan, meningkatkan kapasitas, serta mampu melindungi dirinya sendiri ketika bencana datang.
Inilah esensi utama dari Desa Tangguh Bencana ( DESTANA).
(red—Arief)










