Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekolah yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Kusrina tersebut mengalokasikan anggaran pembayaran tenaga honorer hingga 33,7% (atau dibulatkan sebesar 34%) pada pencairan tahap pertama.Padahal, merujuk pada Ketentuan Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2025, batas maksimal penggunaan dana BOS untuk pembayaran honorer dibatasi paling banyak sebesar 20%.

Secara rinci, dengan jumlah siswa sebanyak 925 anak, SDN 2 Rawa Laut menerima total kucuran Dana BOS Tahap Awal tahun 2025 sebesar Rp410.850.000. Namun, pengeluaran untuk pembayaran gaji tenaga honorer pada tahap tersebut justru membengkak hingga mencapai Rp138.444.000.
Pemerhati Pendidikan Angkat Bicara Menanggapi ketimpangan angka tersebut, Pemerhati Dunia Pendidikan Provinsi Lampung, Kris Manik Aji Chandra ,SH.,CM, menilai bahwa tindakan manajemen sekolah tersebut merupakan bentuk pembangkangan terhadap regulasi yang fatal.
Jerat Sanksi Hukum Menanti Kris Manik Aji Chandra ,SH.,CM, yang juga berprofesi sebagai seorang Advokat hukum, menegaskan bahwa kelebihan alokasi anggaran ini bisa menyeret pihak pengelola ke ranahhukum pidana jika terbukti ada unsur kesengajaan maupun manipulasi data.
“Secara hukum, ketidaksesuaian realisasi anggaran dengan petunjuk teknis (Juknis) nasional dapat dikategorikan sebagai penyalahgunaan wewenang yang berujung pada tindak pidana korupsi. Aturannya sudah tertulis jelas di Permendikdasmen No. 8 Tahun 2025. Jika ambang batas itu dilanggar tanpa urgensi atau izin khusus, maka ada konsekuensi hukum yang harus dipertanggungjawabkan secara personal oleh Kuasa Pengguna Anggaran,” tegasnya mengenai sanksi hukum.
Desak Inspektorat hingga Kejari turun tangan melihat adanya indikasi ketidakberesan tersebut,Kris Manik menaruh harapan besar kepada lembaga pengawas dan penegak hukum di Kota Bandar Lampung untuk segera mengambil langkah konkret tanpa menunda-nunda.
Ia mendesak Inspektorat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kejaksaan Negeri (Kejari), serta Wali Kota Bandar Lampung untuk proaktif turun ke lapangan melakukan audit investigatif terhadap laporan keuangan SDN 2 Rawa Laut.
Kepala Sekolah Enggan Berkomentar
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Kepala Sekolah SDN 2 Rawa Laut, Kusrina, terkesan menghindar dan belum memberikan klarifikasi apa pun.
Upaya konfirmasi telah dilakukan beberapa kali oleh awak media melalui pesan teks WhatsApp maupun sambungan telepon seluler, namun tidak mendapatkan respons. Begitu pula saat wartawan menyambangi langsung SDN 2 Rawa Laut, Kusrina dilaporkan sedang tidak berada di tempat tugasnya.
(red—Arief)










